
Ada satu profesi yang sangat dekat dengan masa kecil kita, tapi justru paling jarang dibicarakan: guru ngaji.
Merekalah orang-orang yang dulu sabar mengajarkan huruf demi huruf, memperbaiki makhraj kita yang salah, membenarkan tajwid yang masih berantakan, sampai akhirnya kita bisa membaca Al-Quran dengan lancar. Tanpa mereka, mungkin kita tidak akan pernah mengenal nikmatnya membaca kalam Allah Ta’ala.
Namun, di balik jasa yang begitu besar, ada fakta-fakta tentang guru ngaji di Indonesia yang… jujur saja, cukup miris. Bukan karena mereka mengeluh. Guru ngaji jarang sekali mengeluh. Namun, ada realita yang memang perlu kita saksikan dengan kedua mata.
Berikut 5 fakta miris tentang guru ngaji yang perlu kamu tahu!

- Banyak Guru Ngaji Tidak Digaji Layak
Di banyak daerah, guru ngaji bekerja tanpa standar honor yang jelas. Ada yang diberi sekadar “uang bensin”, ada yang dibayar seikhlasnya, bahkan banyak yang tidak dibayar sama sekali. Padahal mereka mengajar hampir setiap hari. Pagi mengajar TPQ, sore mengajar anak-anak, malam masih diminta membantu ibu-ibu mengaji. Semua dilakukan semata karena niat ibadah. - Sebagian Besar Mengajar dengan Mushaf yang Sudah Lusuh
Banyak guru ngaji menggunakan mushaf yang sudah sobek sampulnya, halaman menguning, bahkan ada lembaran yang mulai lepas. Sebagian lain mengajar anak-anak dengan mushaf yang dicetak sangat kecil karena itulah satu-satunya yang mereka punya. Bayangkan, mengajar kitab Al Quran yang paling mulia, dengan mushaf yang tidak layak. Namun, mereka tetap tersenyum, tanpa sedikit pun mengendurkan langkahnya! - Minim Fasilitas, Tapi Tetap Semangat Mengajar
Banyak TPQ berdiri di teras rumah, garasi, bahkan emperan masjid. Tidak ada meja belajar, kipas, apalagi proyektor atau peralatan modern lainnya. Namun kelas tetap berlangsung. Anak-anak duduk berdesakan, kadang hanya beralaskan tikar. Guru ngaji duduk di depan mereka, mengulang bacaan yang sama puluhan kali, tanpa lelah. Mereka tidak menuntut fasilitas mewah. Mereka hanya ingin anak-anak dekat dengan Quran selama hidupnya. - Banyak Guru Ngaji Adalah Satu Satunya Harapan Anak-Anak Desa
Di banyak wilayah pelosok, kerap kita menemukan tidak ada sekolah Quran modern, les privat, maupun akses ke ustadz lain. Yang ada hanyalah satu orang guru ngaji.Kalau beliau berhenti atau tidak mampu mengajar, maka berhenti pula aliran ilmu Quran bagi seluruh anak di kampung tersebut. Betapa besar sebenarnya peran mereka. - Mereka Mengajar dengan Hati, Bukan Demi Materi
Inilah fakta yang paling menusuk. Guru ngaji tahu bahwa mereka tidakakan menjadi kaya dari profesi ini. Tetapi mereka tetap melakukannya. Bagi mereka, mengajar Quran adalah ibadah. Pahalanya mengalir tanpa henti. Mereka juga ingin anak-anak tumbuh dengan cahaya hidayah-Nya. Namun bukankah justru karena ketulusan mereka itulah kita perlu hadir membantu?
Saatnya Kita Membalas Jasa Mereka, Walau Sedikit
Di tengah fakta-fakta miris ini, ada kabar baik: kita bisa membantu, bahkan dengan sedekah kecil sekali pun.
Melalui Program Wakaf Mushaf & Beasiswa Guru Ngaji – Amanah Surga, kamu
bisa:
- membantu menyediakan mushaf baru yang layak, jelas, mudah dibaca;
- memberikan dukungan kepada guru-guru ngaji di berbagai daerah;
- ikut menjaga cahaya Al-Quran tetap hidup di hati anak-anak Indonesia.
Mungkin kita tidak bisa mengajar seperti mereka. Tidak bisa seikhlas mereka. Bahkan tidak setangguh mereka. Tapi kita bisa ikut menguatkan perjuangan mereka. Satu mushaf yang kamu wakafkan hari ini, bisa menjadi cahaya yang dibaca ratusan anak.
Dan setiap huruf yang mereka baca… pahalanya mengalir juga untukmu. Klik di sini untuk berwakaf hari ini. Bantu guru ngaji. Tebarkan cahaya Al-Quran. Karena amal ini tak akan berhenti meski kita sudah berhenti bernapas.