
Berabad-abad lamanya, wakaf menjadi salah satu pilar terpenting dalam membangun peradaban Islam.
Banyak dari kita mungkin tidak menyadari bahwa rumah sakit, madrasah, pesantren, hingga tempat-tempat belajar yang harum namanya hari ini, berdiri dari semangat wakaf.
Harta yang diwakafkan terus memberi manfaat, bahkan ketika orang yang mewakafkannya telah lama kembali kepada Sang Pencipta.
Lebih menarik lagi, hasil survei PEBS Universitas Indonesia menunjukkan bahwa generasi milenial di enam kota besar bersedia berwakaf hingga Rp150 ribu per hari. Jika dikumpulkan, nilainya bisa mencapai Rp1,35 triliun setahun.
Namun di zaman sekarang, wakaf tidak sepopuler zakat, sedekah harian, atau qurban.
Banyak muslim mengetahui nilai sedekah, tapi belum memahami dahsyatnya potensi wakaf.
Padahal, menurut data Badan Wakaf Indonesia (BWI), potensi wakaf uang di Indonesia mencapai Rp22 triliun setiap tahun.
Angka tersebut mampu menggerakkan pendidikan, dakwah, dan pengentasan kemiskinan dalam skala besar. Lalu, apa sebenarnya keistimewaan wakaf sehingga disebut sebagai sedekah paling produktif?
1. Harta Wakaf Menjadi Milik Allah dan Manfaatnya Mengalir Selamanya
Secara sederhana, wakaf berarti memisahkan sebagian harta untuk digunakan dalam kebaikan sesuai syariat. Baik dalam waktu tertentu maupun selamanya.
Ketika seseorang mewakafkan hartanya, maka harta itu tidak lagi menjadi miliknya, tidak bisa ditarik kembali, dan tidak diwariskan.
Seperti yang dijelaskan Imam Syafii, harta wakaf adalah “benda yang dihentikan tindakan kepemilikannya, menjadi milik Allah, sementara manfaatnya disedekahkan kepada masyarakat.”
Inilah yang membuat wakaf begitu istimewa.
Harta tetap terjaga, sementara manfaatnya terus mengalir kepada siapa pun yang membutuhkannya.
Tidak ada batasan usia, status sosial, atau kelompok tertentu.
Bayangkan seseorang mewakafkan mushaf Al-Quran. Selama mushaf itu dibaca, digunakan untuk belajar, diperbaiki bacaannya, atau dihafalkan, si pewakaf mendapat pahala tanpa henti.
2. Pahalanya Terus Mengalir Meski Wakif Telah Meninggal
Inilah poin yang membuat wakaf disebut “sedekah produktif”. Pahalanya tidak berhenti, bahkan setelah ajal menjemput.
Allah Ta’ala berfirman:
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika anak Adam meninggal, maka terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Wakaf masuk ke dalam kategori sedekah jariyah, atau amal yang terus hidup bahkan saat jasad kita telah dikembalikan ke bumi.
Selama ada yang memanfaatkan harta itu, pahalanya akan terus tercatat.
Satu mushaf bisa menjadi ratusan bahkan ribuan huruf yang mengalir sebagai pahala.
Satu ruang belajar bisa mencetak generasi Qurani selama puluhan tahun.
Dan satu wakaf kecil bisa berubah menjadi penggerak kebaikan besar di masa depan.
3. Wakaf Membangun Peradaban Muslim yang Kuat
Berbeda dari zakat yang penerimanya terbatas pada delapan golongan, wakaf tidak dibatasi oleh golongan tertentu.
Siapa pun bisa menikmatinya, selama manfaatnya untuk maslahat umat.
Karena sifatnya yang abadi, wakaf dapat:
- menguatkan lembaga pendidikan dan dakwah
- mendukung guru-guru ngaji
- memberantas kebodohan
- mendukung yatim dan dhuafa
- mengurangi kesenjangan sosial
- memutus mata rantai kemiskinan
Inilah mengapa peradaban Islam dulu sangat kuat. Tidak lain karena wakaf hadir menjadi sistem sosial yang menopang aktivitas ibadah, pendidikan, dan kesejahteraan umat lintas generasi.
Allah Ta’ala berfirman:
“…Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa…” (QS. Al-Maidah: 2)
Menghidupkan Semangat Wakaf Lewat Pendidikan Al-Quran
Hari ini, banyak anak-anak yang ingin belajar Al-Quran, tetapi kekurangan fasilitas.
Banyak sekolah dan guru ngaji yang ingin mengajar, hanya saja tidak memiliki mushaf yang layak.
Di sisi lain, banyak pula yatim maupun dhuafa yang mendambakan pendidikan Quran, namun tidak memiliki akses.
Di sinilah Sekolah Mengaji – Amanah Surga hadir.
Melalui program Wakaf Al-Quran untuk Pelajar, Wakaf Pendidikan Quran, dan pembinaan yatim–dhuafa YAFIDQUR, setiap wakaf Anda akan langsung digunakan untuk:
- menyediakan mushaf baru untuk pelajar
- mendukung kelas mengaji
- memperkuat guru ngaji
- membina anak-anak Qurani
- menghidupkan kembali budaya belajar Al-Quran di masyarakat
Wakaf Anda bukan sekadar sedekah. Ia adalah investasi peradaban dan investasi terbaik adalah yang tetap hidup meski kita telah tiada.